Pernyataan Prabowo di PBB: Strategi Diplomasi Baru Indonesia di Kancah Global
| Pernyataan Prabowo di PBB: Strategi Diplomasi Baru Indonesia di Kancah Global |
Dalam Sidang Majelis Umum PBB 2025 di New York, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menjadi sorotan dunia. Ini adalah penampilan perdananya di forum global sejak resmi menjabat sebagai Presiden RI, sekaligus menandai arah baru diplomasi Indonesia.
Prabowo menekankan posisi Indonesia sebagai “kekuatan menengah dengan pengaruh besar di Asia Tenggara” yang berkomitmen pada perdamaian dunia, kemandirian ekonomi, serta solidaritas global menghadapi tantangan bersama.
-
Komitmen Perdamaian Global
-
Indonesia menegaskan kembali prinsip “bebas aktif” yang diwariskan sejak era Soekarno.
-
Menolak blok-blokan politik, menyerukan de-eskalasi konflik di Timur Tengah, Ukraina, hingga Laut China Selatan.
-
-
Isu Keadilan Ekonomi Dunia
-
Prabowo menyoroti ketimpangan global, terutama terkait akses negara berkembang terhadap pendanaan hijau, teknologi energi bersih, dan perdagangan adil.
-
Ia menekankan agar lembaga keuangan internasional lebih inklusif terhadap kepentingan negara berkembang.
-
-
Ketahanan Pangan dan Energi
-
Indonesia menawarkan diri sebagai mitra strategis dunia dalam penyediaan pangan berkelanjutan, terutama melalui kekuatan sektor pertanian tropis.
-
Dorongan pada investasi energi terbarukan dan transisi energi nasional disampaikan sebagai contoh komitmen Indonesia.
-
-
Isu Kemanusiaan dan Solidaritas Global
-
Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap Palestina dan menyerukan solusi damai dua negara.
-
Ia juga menekankan peran Indonesia dalam misi kemanusiaan internasional, mulai dari bantuan bencana hingga pengiriman pasukan penjaga perdamaian.
-
Pernyataan Prabowo mencerminkan pergeseran diplomasi Indonesia dari sekadar “penengah regional” menuju aktor global yang lebih proaktif. Ada tiga hal yang menonjol:
-
Assertive Diplomacy: Indonesia lebih berani mengambil posisi strategis, tidak hanya mengikuti arus negara besar.
-
Ekonomi sebagai Basis Diplomasi: Penguatan perdagangan, investasi, dan energi terbarukan dijadikan alat diplomasi utama.
-
Humanitarian Leadership: Indonesia menegaskan peran sebagai negara yang vokal dalam isu kemanusiaan internasional.
Namun, strategi baru ini bukan tanpa tantangan:
-
Tekanan Geopolitik – Indonesia harus hati-hati agar tidak terseret ke dalam rivalitas AS–China.
-
Konsistensi Kebijakan Domestik – Diplomasi ekonomi harus sejalan dengan stabilitas fiskal, iklim investasi, dan kepastian hukum di dalam negeri.
-
Kapabilitas Militer & Ekonomi – Peran global yang lebih besar perlu ditopang oleh kekuatan pertahanan dan ekonomi yang solid.
Bagi rakyat, diplomasi ini diharapkan membawa:
-
Peluang kerja sama internasional yang lebih luas, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.
-
Akses teknologi hijau yang bisa mempercepat modernisasi sektor energi dan industri.
-
Citra Indonesia yang semakin kuat di panggung dunia, memberi kepercayaan diri nasional.