Tren Baru Media Sosial: Bagaimana Gen Z Merespon Krisis dengan Humoris
| Tren Baru Media Sosial: Bagaimana Gen Z Merespon Krisis dengan Humoris |
Di tengah dunia yang penuh ketegangan—mulai dari konflik global, krisis ekonomi, hingga tekanan sosial—muncul fenomena menarik di media sosial: humor sebagai bentuk pelarian dan perlawanan. Generasi Z, atau Gen Z, dikenal sebagai generasi yang paling aktif di dunia digital. Mereka tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga menciptakan narasi baru dengan gaya yang ringan, satir, dan kadang absurd untuk menghadapi kenyataan yang berat.
Bagi Gen Z, humor bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk mekanisme coping — cara untuk menghadapi stres, kecemasan, dan ketidakpastian dunia modern.
Di platform seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram, banyak konten lucu yang sebenarnya membahas isu serius: inflasi, pekerjaan sulit, bahkan perang dan politik.
Contohnya, saat isu geopolitik meningkat, muncul tren meme “POV: kamu scroll TikTok sementara dunia terbakar”.
Humor ini mengandung ironi, tetapi juga menunjukkan kesadaran sosial yang tinggi: mereka tahu dunia sedang tidak baik-baik saja, namun memilih tertawa sebagai bentuk bertahan.
Meme telah menjadi bahasa global Gen Z.
-
Mereka menggunakan format sederhana—gambar, teks, dan video pendek—untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang mudah dicerna.
-
Fenomena “dark humor” dan “nihilistic memes” menjadi populer karena mencerminkan perasaan frustrasi terhadap kondisi dunia yang sulit dipahami.
Menurut riset dari Pew Research Center (2025), 68% Gen Z mengaku menggunakan humor untuk “menghadapi berita buruk” di internet, sementara 54% merasa humor membantu mereka “tetap waras” di tengah banjir informasi negatif.
Walau terlihat santai, humor Gen Z sering mengandung makna mendalam.
Contoh:
-
Meme tentang krisis iklim yang menggambarkan bumi terbakar sambil berkata “this is fine”.
-
Video parodi tentang harga kebutuhan pokok naik, yang diakhiri dengan tawa — padahal menggambarkan realitas yang memprihatinkan.
Di balik semua itu, ada empati terselubung. Humor bukan untuk meremehkan masalah, tapi cara untuk menormalkan pembicaraan tentang hal-hal yang biasanya tabu atau menakutkan.
Platform digital memberi Gen Z ruang untuk bersuara — dan tertawa bersama.
Hashtag seperti #GenZHumor, #DoomScrolling, dan #LaughToCope sering muncul sebagai tren viral.
Mereka bukan sekadar tren, tapi gerakan sosial tanpa nama yang mempertemukan jutaan pengguna dari berbagai belahan dunia dengan perasaan yang sama: “kita semua sedang berjuang, dan kita tidak sendirian.”
Namun, tren ini juga punya sisi gelap.
Beberapa pihak menilai bahwa “humor di atas penderitaan” dapat menumpulkan empati atau bahkan menyinggung korban krisis.
Misalnya, meme tentang perang atau bencana alam bisa dianggap tidak pantas oleh sebagian orang.
Para pakar komunikasi digital mengingatkan pentingnya etika humor online — tertawa boleh, tapi tidak dengan mengorbankan penderitaan orang lain.
Fenomena humor Gen Z di media sosial menunjukkan evolusi cara manusia memproses realitas.
Mereka menertawakan dunia bukan karena tidak peduli, tetapi karena itulah satu-satunya cara agar tetap kuat.
Di era penuh ketidakpastian ini, tawa menjadi bentuk kecil dari perlawanan — dan solidaritas digital menjadi jembatan di antara kesedihan dan harapan.